Gimana Caranya Jadi Ibu Yang (Tidak) Sempurna

Saya tidak bisa menjadi seorang ibu yang sempurna. Namun saya bisa menjadi seorang ibu yang bahagia. 

Konsep perfect imperfect datang dari Wabi Sabi lifestyle yang ada di masyarakat Jepang. Wabi Sabi sering diartikan sebagai menemukan keindahan di sebuah ketidaksempurnaan. Justru jadi indah karena tidak sempurna dan tidak abadi. Pada realitanya, tidak ada yang abadi, tidak ada yang selesai dan tidak ada yang sempurna. Salah satu contohnya adalah daun yang berubah warna di musim gugur. Jadi indah karena sementara, karena kita tahu sebentar lagi daunnya akan rontok dan berganti jadi musim salju yang beku.

Begitu juga dengan parenting. Sebagai seorang ibu tunggal, keadaan rumah tangga saja sudah tidak sempurna jika dibandingkan dengan definisi keluarga ideal. Ibu tunggal kerap berperan ganda untuk mengisi absennya sosok ayah, baik karena perceraian maupun karena kematian. Lalu sebagai perempuan, kita juga sering berhadapan dengan tuntutan masyarakat untuk jadi sempurna. Baik dalam peran sebagai ibu, sebagai anak ataupun sebagai manusia biasa. 

Jadi inget film Barbie kemarin.

"You have to have money, but you can't ask for money because that's crass. You have to be a boss, but you can't be mean. You have to lead, but you can't squash other people's ideas. You're supposed to love being a mother, but don't talk about your kids all the damn time. You have to be a career woman but also always be looking out for other people.”

Harus punya uang, tapi nggak bisa minta karena itu bodoh. Harus jadi boss tapi nggak boleh jahat. Harus memimpin tapi nggak bisa menghancurkan ide orang lain. Harus bahagia jadi ibu tapi jangan bicarakan anak-anakmu setiap saat. Harus jadi wanita karir tapi harus mengurus orang lain juga.

Terus gimana caranya jadi ibu yang (tidak) sempurna?

Ingatlah bahwa jadi ibu bukan selamanya. Eh, gimana? Iya, jadi ibu itu ada fasenya. Anak bayi beda dengan anak balita. Lalu anak jadi remaja dan dewasa, lalu kita menua. Setiap fase ada deadlinenya. Kalau waktunya terbatas, bagaimana kita bisa melakukan semuanya dengan sempurna? Kita tidak punya cukup waktu untuk belajar dari teori atau belajar dari kesalahan. Jadi, ya jalankan apa adanya. Sesuai dengan apa yang kita bisa. Create memories and make them happy ones.

Kita sendiri bukan manusia sempurna. Yang komen soal parenting style kita juga pasti tidak sempurna. Jadi, kenapa pusing? Belajar mencintai ketidaksempurnaan kita, dan mengubahnya jadi keunikan kita. Banyak hal-hal yang di luar kontrol kita, sesimple keadaan kita merawat anak. Idealnya kita tinggal bersama pasangan di rumah sendiri. Namun ternyata Covid selesai dan kita berdua kembali WFO. Anak otomatis harus dititipkan ke orang tua. Hal ini merubah gaya parenting kita dan rencana kita, yang sempurna tersebut, jadi berantakan.

Belum lagi kalau seperti saya, yang dimulai saja sudah timpang sebelah karena single mother. Mengejar kesempurnaan ini jadinya lebih sulit karena start-nya satu langkah di belakang definisi keluarga lengkap. 

Apakah dengan ketidaksempurnaan ini kita jadi gagal? 

Eits, tunggu dulu. Ibu yang tidak sempurna bukan berarti ibu yang gagal. Coba ingat-ingat lagi jaman sekolah dulu. Kalau seratus adalah nilai sempurna, 60 adalah nilai yang cukup untuk naik kelas. Jadi, tidak sempurna tidak apa-apa asal kita tidak kena rapport merah. Good enough mother. Bukan gagal, cuma tidak sempurna. Nilai 70 atau 80 juga cukup untuk naik kelas dan lulus sekolah. Begitu juga dengan parenting.

Mengapa hal ini penting untuk saya?

Soalnya yang penting adalah menjadi seorang ibu yang bahagia. Kalau kesempurnaan ini tidak memberikan kebahagiaan, ya tidak usah maksa.


Comments

Popular Posts