Ancaman Ego Orang Tua untuk Tumbuh Kembang Anak

Ingin jadi seorang ibu yang baik, atau sukses menurut takaran kita, namun rasanya kok sulit. Menurut buku “Ego Is the Enemy” yang ditulis Ryan Holiday, tantangan terbesar justru datang bukan dari luar sana, tapi dari diri kita sendiri. Bisa cara pandang, sikap perilaku maupun fokus kepada diri sendiri. Atau yang lebih umum dikenal sebagai ego.

Ryan sendiri adalah seorang public relation strategist dan host dari podcast The Daily Stoic. “Ego Is the Enemy” adalah buku keempat yang ditulisnya, dan dipublikasikan pada tahun 2016.

Ego inilah yang membuat kita merasa butuh menjadi lebih baik atau deserve better dari orang lain.


Termasuk ketika kita menjadi orang tua. Yang namanya persaingan di dunia ibu-ibu sudah tidak perlu dibahas lagi. Anak saya paling cantik. Anak saya paling pintar. Loh, Bun, kok umur 2 tahun belum bisa ngomong? Anak saya sudah bisa menyanyi, lho. Semuanya terdengar sebagai ego yang ingin menjadi seorang ibu terbaik.

Padahal ini bahaya. Karena ego bisa membuat kita menjadi seorang ibu yang tidak masuk akal dan hal ini tentunya akan berpengaruh ke tumbuh kembang anak-anak. Seorang ibu yang ingin anaknya dianggap cantik karena punya rambut panjang, akan setengah mati mencari treatment agar rambut anaknya tidak tipis. Si anak tentunya akan ikut terbawa ke ambisi ibunya, mungkin akan merasa tidak percaya diri dengan keadaan rambutnya. Hal seperti ini tentunya tidak baik untuk kesehatan mental si anak. Ego membuat kita membutuhkan validasi dari luar untuk mengukur harga diri dan kebahagiaan.

Lalu ego juga membuat memberikan ekspektasi tidak realistis pada anak. 

Misalnya ketika sedang lomba. Jaman saya masih ikutan lomba, terkadang saya bertemu anak yang kecewa karena kalah. Kekecewaan anak ini terkadang terlihat di ibunya juga, yang ujung-ujungnya protes ke panitia. Anaknya berhak mendapatkan juara. Penjuriannya seperti apa, nilainya juri bisa dilihat? Kenapa anak saya kalah dengan anak yang satunya? Ego bisa membuat kita gelap mata akan kemampuan kita sendiri dan membuat kita sombong karena merasa lebih baik dari orang tua lain. Padahal tidak.

Dalam jangka panjang, ego menghalangi kita berkembang. Pertama, kita tidak bisa bergaul bebas dengan orang lain karena, yah, orang lain kan lebih payah daripada kita. Buat apa bertanya pada Ibu X, toh saya lebih tahu. Lalu kita juga tidak bisa berkembang. Lha, kan saya sudah yang paling pintar, buat apa belajar?

Bagaimana caranya agar Ego tidak membuat kita jadi orang tua yang buruk?

Ryan Holiday menyarankan agar kita berfokus pada usaha dan bukan hasilnya. Saya sudah memberikan yang terbaik sebagai seorang ibu, sudah mempersiapkan anak sebaik mungkin untuk lomba. Namun tetap kalah juga. Well, mungkin memang masih ada yang kurang. Yang penting saya sudah berusaha maksimal. Hargai usahanya sebagai sesuatu yang sudah diperjuangkan dan terima bahwa ada banyak hal lain di luar sana yang tidak bisa kita kendalikan. Misalnya keberuntungan.

Lakukan yang terbaik dan serahkan sisanya pada tuhan.

Alihkan fokus dari diri sendiri ke orang lain. Loh, tapi saya berusaha untuk anak jadi cantik dengan rambut panjang. Ini kan untuk anaknya. Yakin? Bukan karena kita yang kena kritik ibu-ibu lain karena rambut anak kita bondol? Atau karena ucapan ibu mertua di pertemuan keluarga kemarin soal penampilan anak kita? Memang anak jadi cantik dengan rambut yang panjang, namun yang memotivasi kita mengusahakannya adalah ego kita yang terluka.

Coba tanya anaknya dan diskusi mencari jalan keluarnya berdua. Bangun kepercayaan diri anak, lawan komentar netijen bersama-sama daripada menyerah sendirian.

Mengakui bahwa kita tidak sempurna membutuhkan effort yang besar. Kegagalan seringkali membuat ego kita terluka karena kita disadarkan bahwa kita hanyalah satu dari sejuta manusia yang biasa-biasa saja di luar sana. Kalau kita memisahkan diri dari kompetisi dan menyadari bahwa setiap manusia ini unik adanya, maka ego tidak akan mengganggu perjalanan hidup kita. Hubungan setiap orang tua dan anak itu unik. Kita punya tradisi keluarga, punya cerita masing-masing yang tidak bisa jadi kompetisi. 

Jangan sampai ego menguasai dan mengambil alih serunya jadi ibu.

Comments

Popular Posts