Menjadi Ibu Bijaksana Bisa Dimulai Dari Memumpuk Percaya Diri
Ini adalah sebuah cerita tentang mencari pembenaran.
Beberapa waktu lalu di Indonesia merayakan hari ayah. Anak saya tidak punya ayah dan saya tidak punya pasangan. Jadi, saya sering menganggap keberadaan sosok ayah / pasangan itu adalah privilege di keluarga kecil saya. Saya membesarkan anak sendirian. Sebagai orang tua tunggal yang tentunya hanya punya single income, saya paling anti menjual cerita kasihan. Menurut saya, setiap orang tua punya masalahnya masing-masing dan problem yang harus dipecahkan.
Saya cenderung tidak membagikan cerita pribadi yang sedih atau mengundang belas kasihan. Sebaliknya, saya lebih tertarik untuk berbagi kisah yang dapat memotivasi dan menginspirasi orang lain. Tujuan saya adalah menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan semangat yang tepat, kita semua mampu mengatasi kesulitan dan mencapai tujuan. Bukan hal mudah karena yang namanya persepsi selalu berbeda-beda. Cerita yang saya maksudkan sebagai sesuatu yang menginspirasi pun, dapat dilihat orang sebagai musibah. Tergantung fokus pembacanya ada di mana.
Kalau tidak terlihat dari luar, atau tidak ada yang bertanya, ya saya juga tidak bilang. Buat apa? Kadang datang pertanyaan, “kok bisa tegar begitu?” Ya, pertama, saya bukan Rossa juga teman-teman. Kedua, menurut saya yang terjadi dalam hidup saya ini manusiawi alias normal-normal saja. Kembali lagi ke poin tadi, fokus pembaca cerita ada di mana. Fokus saya ada di fakta bahwa kita mampu dan bisa. Makanya pede ngejalaninnya.
Beberapa waktu lalu di Indonesia merayakan hari ayah. Anak saya tidak punya ayah dan saya tidak punya pasangan. Jadi, saya sering menganggap keberadaan sosok ayah / pasangan itu adalah privilege di keluarga kecil saya. Saya membesarkan anak sendirian. Sebagai orang tua tunggal yang tentunya hanya punya single income, saya paling anti menjual cerita kasihan. Menurut saya, setiap orang tua punya masalahnya masing-masing dan problem yang harus dipecahkan.
Saya cenderung tidak membagikan cerita pribadi yang sedih atau mengundang belas kasihan. Sebaliknya, saya lebih tertarik untuk berbagi kisah yang dapat memotivasi dan menginspirasi orang lain. Tujuan saya adalah menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan semangat yang tepat, kita semua mampu mengatasi kesulitan dan mencapai tujuan. Bukan hal mudah karena yang namanya persepsi selalu berbeda-beda. Cerita yang saya maksudkan sebagai sesuatu yang menginspirasi pun, dapat dilihat orang sebagai musibah. Tergantung fokus pembacanya ada di mana.
Kalau tidak terlihat dari luar, atau tidak ada yang bertanya, ya saya juga tidak bilang. Buat apa? Kadang datang pertanyaan, “kok bisa tegar begitu?” Ya, pertama, saya bukan Rossa juga teman-teman. Kedua, menurut saya yang terjadi dalam hidup saya ini manusiawi alias normal-normal saja. Kembali lagi ke poin tadi, fokus pembaca cerita ada di mana. Fokus saya ada di fakta bahwa kita mampu dan bisa. Makanya pede ngejalaninnya.
![]() |
Bijaksana dan mematut diri, mulai dari mana?
Bagaimana biar orang tidak auto-kasihan? Biar fokusnya bergeser dari cerita sedih ala sinetron, jadi kisah inspiratif ala pemenang ajang cari bakat? Browsing di internet, saya menemukan beberapa poin yang perlu diterapkan dalam kehidupan saya sebagai seorang ibu, agar bisa menjadi orang yang bijaksana dan mematut diri.- Menghargai Diri Sendiri. Setiap orang itu unik, berarti setiap ibu itu unik. Hargailah apa yang sudah kita lakukan untuk keluarga dan anak-anak kita. Effort sekecil apapun, yang sering dianggap remeh oleh banyak orang, adalah keberhasilan kita. Kenali kemampuan diri kita. Jangan memaksa menyiapkan bekal extravagant jika kita tidak bisa masak. Anak saya katering, saya tidak bisa dan tidak sempat masak. Ini tidak membuat saya merasa minder dari ibu-ibu yang bisa menyiapkan dan memfoto bekal mereka setiap hari di sosmed.
- Empati dan Pengertian. Jangan langsung menghakimi, kenapa orang lain nge-judge begitu. Mungkin mereka datang dari keluarga yang punya value berbeda. Kalau ada yang auto-kasihan, mungkin memang mereka belum pernah melihat atau mengalami struggling yang sama, sehingga melihat dari sisi ‘nasib buruk’nya.
- Menjaga Kerendahan Hati. Jangan takabur meski kisah kita ‘inspiratif.’ Kembali ke poin pertama bahwa saya menghargai kegiatan yang saya lakukan sebagai seorang ibu. Dalam hal ini ibu tunggal. Kalau dianggap sukses ya syukurlah. Kalau ada yang mau mendengarkan cerita, saya juga senang. Tapi bukan berarti saya punya alasan jadi sombong karena merasa jadi seorang ibu yang sukses.
- Mengelola Ekspektasi. Apakah mungkin ‘kegagalan’ yang terjadi sebenarnya adalah kegagalan kita mengelola ekspektasi? Karena sering melihat orang dengan privilege di luar sana, dalam kasus saya adalah manusia berpasangan, saya merasa gagal karena jomblo. Padahal kalau bertanya ke diri sendiri apakah saya ekspektasi punya pasangan, jawabannya TIDAK.
- Fokus pada Pertumbuhan Pribadi. Setiap langkah kecil menuju tujuan adalah kemenangan. Terkait poin nomor 4 di atas, tetapkan tujuan kita lalu rayakan langkah-langkah kecil yang berhasil kita lakukan. Dengan memupuk pertumbuhan pribadi, kita bisa jadi lebih percaya diri.
Comments
Post a Comment