Self-Talk Series: Ngobrol Soal Kesalahan Parenting
Kalau bisa mengulang waktu, kesalahan parenting apa yang tidak akan Anda ulangi?
Pertanyaan ini pernah jadi diskusi santai teman-teman seperjuangan menjadi ibu. Meskipun diskusinya santai, ternyata jawabannya hampir semua berat.
Pertanyaan ini pernah jadi diskusi santai teman-teman seperjuangan menjadi ibu. Meskipun diskusinya santai, ternyata jawabannya hampir semua berat.
![]() |
Image by freepik |
Ada yang ingin tinggal sendiri, alias tidak numpang di rumah mertua dan mendapatkan berbagai intervensi dari orang lain dalam pengasuhan anak. Ibu yang ini bercerita bahwa anaknya sekarang bukan hasil pengasuhannya dan suami, tapi didikan mertua. Bukan hal yang buruk memang, karena menurutnya orang tua suami juga memiliki sistem yang baik dan tidak memanjakan cucu secara berlebihan. Terbukti, suami juga adalah orang yang berhasil dan mandiri. Namun, rasanya tidak puas karena tidak bisa “memegang sendiri” anak-anaknya.
“Lho, kok kemarin nggak tinggal rumah sendiri aja?” tanya ibu yang lain.
Suami adalah anak tunggal. Jadi diminta tetap di rumah. Ah, sulit ya.
Lalu, ada yang ingin punya anak hanya satu. Si adik yang lahir di luar rencana mengacaukan segalanya. Setidaknya begitu menurut si ibu. Kakak yang harus selalu mengalah, suami yang stress karena mereka tidak siap secara finansial, dan ibu yang kelelahan karena jarak kedua anak tidak begitu jauh. Hidup jauh dari orang tua dan mertua yang bisa setiap saat membantu dan dititipi anak, membuat sang ibu merasa berjuang sendirian. Belum lagi, kalau suami pulang malam atau dinas ke luar kota.
Dan masih banyak cerita “berat” lainnya termasuk yang menyesali ketakutannya bercerai padahal anak sudah kena pukul oleh suami, keinginan menunda berkeluarga karena sekarang sulit memprioritaskan anak dari hobi, ingin lebih banyak waktu sama anak, tapi finansial menghalangi dan lain sebagainya.
Semuanya negatif.
Saya menanyakan hal yang sama dengan diri sendiri. Apa yang ingin dirubah? Jujur, saya tidak tahu. Yang sudah terjadi dan terlewati kemarin seperti sudah oke, sudah baik-baik saja. Kalau mengulang lagi, mungkin akan melakukan hal yang sama juga.
Menjadi seorang ibu akan sulit jika kita berharap bisa sempurna. Idealnya, hidup sendiri, tanpa intervensi kakek nenek, tapi bisa me-time ketika dibutuhkan agar tidak burn out. Tidak pusing secara finansial tapi bisa bekerja dari rumah dan spend time sama anak. Namun, satu kesalahan yang terjadi bukan berarti gagal. Bagaimana merubah “kegagalan” ini jadi afirmasi positif untuk kita terus menjalani hari sebagai seorang ibu?
Pertama, sadari bahwa pikiran negatif ini mempengaruhi hidup kita. Penyesalan tidak bisa mendidik anak sendiri, kurang bisa memberikan yang terbaik atau kehilangan me-time bisa datang kapan saja. Sadari kapan mereka datang dan catat apa yang sedang terjadi. Kedua, lihat pattern-nya. Saya biasanya mem-breakdown pikiran negatif ini jadi beberapa jenis: clickbait alias hiperbola, prasangka buruk, dan generalisasi. Prasangka buruk ini lumayan berbahaya karena bisa membuat kita jadi negative thinking tentang sesuatu. Misal, anak menangis lalu digendong oleh nenek. Kita merasa bahwa kita gagal sebagai ibu karena anak yang lagi menangis sampai harus digendong nenek. Pasti si ibu mertua juga berpikir kita tidak kompeten. Padahal, ya ada cucu nangis, masa nenek tidak gendong?
Ketiga, alihkan pikiran ke hal positif. Pelajaran apa yang bisa diambil dari kejadian tersebut? Atau yakinkan diri bahwa kita sudah berusaha yang terbaik semampu kita, bukan menurut standard orang lain. Jangan menyabotase diri dengan bilang saya tidak mampu atau saya gagal. Jangan pula menyalahkan orang lain, termasuk anak dan suami.
Ngobrol sama diri sendiri, bisa lewat tulisan juga, sama seperti yang saya lakukan di postingan ini.
“Lho, kok kemarin nggak tinggal rumah sendiri aja?” tanya ibu yang lain.
Suami adalah anak tunggal. Jadi diminta tetap di rumah. Ah, sulit ya.
Lalu, ada yang ingin punya anak hanya satu. Si adik yang lahir di luar rencana mengacaukan segalanya. Setidaknya begitu menurut si ibu. Kakak yang harus selalu mengalah, suami yang stress karena mereka tidak siap secara finansial, dan ibu yang kelelahan karena jarak kedua anak tidak begitu jauh. Hidup jauh dari orang tua dan mertua yang bisa setiap saat membantu dan dititipi anak, membuat sang ibu merasa berjuang sendirian. Belum lagi, kalau suami pulang malam atau dinas ke luar kota.
Dan masih banyak cerita “berat” lainnya termasuk yang menyesali ketakutannya bercerai padahal anak sudah kena pukul oleh suami, keinginan menunda berkeluarga karena sekarang sulit memprioritaskan anak dari hobi, ingin lebih banyak waktu sama anak, tapi finansial menghalangi dan lain sebagainya.
Semuanya negatif.
Saya menanyakan hal yang sama dengan diri sendiri. Apa yang ingin dirubah? Jujur, saya tidak tahu. Yang sudah terjadi dan terlewati kemarin seperti sudah oke, sudah baik-baik saja. Kalau mengulang lagi, mungkin akan melakukan hal yang sama juga.
Menjadi seorang ibu akan sulit jika kita berharap bisa sempurna. Idealnya, hidup sendiri, tanpa intervensi kakek nenek, tapi bisa me-time ketika dibutuhkan agar tidak burn out. Tidak pusing secara finansial tapi bisa bekerja dari rumah dan spend time sama anak. Namun, satu kesalahan yang terjadi bukan berarti gagal. Bagaimana merubah “kegagalan” ini jadi afirmasi positif untuk kita terus menjalani hari sebagai seorang ibu?
Pertama, sadari bahwa pikiran negatif ini mempengaruhi hidup kita. Penyesalan tidak bisa mendidik anak sendiri, kurang bisa memberikan yang terbaik atau kehilangan me-time bisa datang kapan saja. Sadari kapan mereka datang dan catat apa yang sedang terjadi. Kedua, lihat pattern-nya. Saya biasanya mem-breakdown pikiran negatif ini jadi beberapa jenis: clickbait alias hiperbola, prasangka buruk, dan generalisasi. Prasangka buruk ini lumayan berbahaya karena bisa membuat kita jadi negative thinking tentang sesuatu. Misal, anak menangis lalu digendong oleh nenek. Kita merasa bahwa kita gagal sebagai ibu karena anak yang lagi menangis sampai harus digendong nenek. Pasti si ibu mertua juga berpikir kita tidak kompeten. Padahal, ya ada cucu nangis, masa nenek tidak gendong?
Ketiga, alihkan pikiran ke hal positif. Pelajaran apa yang bisa diambil dari kejadian tersebut? Atau yakinkan diri bahwa kita sudah berusaha yang terbaik semampu kita, bukan menurut standard orang lain. Jangan menyabotase diri dengan bilang saya tidak mampu atau saya gagal. Jangan pula menyalahkan orang lain, termasuk anak dan suami.
Ngobrol sama diri sendiri, bisa lewat tulisan juga, sama seperti yang saya lakukan di postingan ini.
Comments
Post a Comment